Mungkin kita tidak perlu terlalu mengharap untuk dapat langsung mendapatkan Cahaya Allah SWT saat “menghadang” turunnya Lailatur Qadar. Mengapa?? Yah, karena sudah pasti kita tidak akan mampu menhadapinya. Ingat kisah Nabi Musa a.s. ketika memohon untuk ditunjukkan “wajah” cahaya Allah, maka Musa a.s. langsung pingsan dan bukitpun luluh tak ada daya buat menghadapinya, apalagi kita sebagai manusia biasa saja. Akan tetapi paling tidak kita masih berharap untuk mendaptkan percikan dari limpahan pancaran Sinar-Nya yang terhambur ke seluruh alam semesta ini. Kalau cahaya sinar matahari ditransmisikan lewat foton hingga ke Bumi, maka Cahaya-Sinar Allah SWT ditransmisikan melalui para Malaikat yang diutus-Nya. Kalau cahaya matahari mencerahkan hari-hari kita sehingga kita bisa melihat dan merasakan suasana di sekitar kita dengan jelas, maka Cahaya Allah akan mencerahkan qolbu kita sehingga kita bisa melihat , memahami dan merasakan segala sesuatu yang tersirat di sekitar kita.
Cahaya Allah adalah representasi sifat-sifat-Nya. Sifat-sifat Allah adalah serba tak terhingga dihadapan manusia yang di antaranya terekspresi di dalam asmaul husna. Sejumlah 99 nama yang masing-masing membawa berlipat-lipat cahaya yang harus kita kais bersama. Kita memerlukan percik-percik refleksi cahaya Allah untuk menumbuhkan nafs/kepribadian kita secara sehat dan bermanfaat untuk semua.
Cahaya Allah sudah pasti melingkupi kita semua. Sebagaimana matahari yang menyinari bumi, kita pun tak mampu menatapnya, apatah, Cahaya-Sinar Allah yang melingkupi segala sesuatu. Kita dapat mengais sinar matahari melalui cahaya yang dipantulkan lewat berbagai sudut ruang. Sebagaimana tanaman yang mendapatkan percikan cahaya matahari, maka tanaman itu akan mampu memanfaatkannya untuk melakukan fotosintesis yang sangat bermanfaat untuk proses-proses fisiologi yang lebih kompleks dalam pertumbuhannya, tumbuh membentuk daun, batang, cabang, bunga, buah dsb, semua bermla dari fotosintesis yang memerlukan sebagian kecil percikan cahaya matahari. Allah SWT memberikan perangkat yang sangat penting untuk ini, yakni: klorofil atau zat hijau daun (QS 6:99).
Kita perlu memanfaatkan perangkat yang berupa akal, fuad, dan qolbu untuk mengais Cahaya Allah yang terefleksi di setiap sudut kehidupan kita. Cahaya asmaul husna Allah yang terpercik lewat berbagai pantulan sudut itu, pastilah sudah cukup untuk menumbuhkan secara sehat lahir dan batin kita. Tidak perlu menatap Cahaya-sinar Nya. Masalahnya adalah bagaimana kita menghilangkan tabir-tabir yang menutupi pantulan2 Cahaya yang melimpah ruah itu? Dan bagaimana kita menajamkan perangkat kita itu untuk dapat bereaksi dengan cepat sehinga efektif seperti klorofil? Kita perlu belajar dari klorofil yang secara tepat dapat mengenali sifat cahaya matahari (sinar UV) dan mentransformasikannya menjadi bahan kimia (glukosa) yang bermanfaat banyak, maka kitapun perlu memahami sifat-sifat Cahaya Allah itu secara benar. Kita perlu mengenali sifat Allah dalam asmaul husna secara cermat. Dapatkan percikanNya, meskipun hanya sedikit dan transformasikan untuk pertumbuhan sehat jiwa dan pikiran kita sehingga dapat berbuah manfaat yang banyak.
Wallahu a’lam bishshowab